ALTERNATIF BAHAN BAKAR DAN TUNGKU PEMBAKARAN: UPAYA PENINGKATAN EFESIENSI DAN KEBERLANJUTAN RUMAH PRODUKSI TAHU
DOI:
https://doi.org/10.35718/sepakat.v4i2.8481725Kata Kunci:
Kayu Ulin, Keberlanjutan, Sentra Industri Kecil, Tahu Tempe, PembakaranAbstrak
Sentra Industri Kecil Somber (SIKS) di Kota Balikpapan merupakan kluster industri kecil yang fokus pada produksi tahu dan tempe. Pada lahan seluas 9 hektar dan terdiri dari sekitar 94 rumah produksi, dengan 60 di antaranya telah aktif beroperasi. Salah satu proses penting dalam produksi tahu adalah pemanasan air untuk menghasilkan uap guna merebus kedelai. Proses ini dilakukan menggunakan tungku berbahan bakar kayu dan boiler besar, dengan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) sebagai bahan bakar utama. Kayu ulin dipilih karena daya tahannya yang tinggi dibandingkan jenis kayu lain seperti meranti dan bangkirai. Namun, penggunaan kayu ulin memiliki konsekuensi terhadap keberlanjutan, karena pertumbuhannya sangat lambat dan membutuhkan waktu sekitar 65 tahun untuk mencapai diameter panen ideal. Selain itu, pasokan kayu yang semakin terbatas serta biaya logistik yang tinggi—karena harus didatangkan dari luar Balikpapan—menjadi tantangan tersendiri. Meskipun secara teknis unggul, penggunaan kayu ulin menghadirkan dilema dalam aspek efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan. Dengan kegiatan ini, telah dihasilkan dan diuji mengenai penggunaan briket sebagai alternatif bahan bakar dan tungku yang lebih efektif dalam efesiensi biaya dan mendukung keberlanjutan.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Dengan ini penulis naskah menyatakan bahwa naskah yang dikirimkan adalah hasil karya penulis sendiri, kecuali yang dikutip.